Suamimu Bukan Pangeran

Suamimu Bukan Pangeran

Sahabat, apa yang ada dalam bayangan kita tentang calon suami?

Bak dongeng a la Walt Disney, calon suami idaman adalah sosok yang digambarkan nyaris sempurna, bak pangeran dari negri antah-berantah. Imej itu telah melekat di sanubari tiap calon istri.

Sosok sempurna yang jadi idaman itu sebagai berikut:

1. Ganteng

Tidak ada pangeran yang digambarkan buruk rupa bukan? Bahkan The Beast yang digambarkan jelek dan mengerikan itu, divisualkan dengan rupa binatang buas. Tapi, meski begitu disiap sebagai pelindung wanitanya.

Padahal bisa jadi jodoh kita adalah lelaki Indonesia pada umumnya, yg tidak terlalu tinggi/atletis, berkulit gelap, dengan muka standar. Lantas apakah pria ini tak pantas jadi pemdamping kita?

Cobalah pandang di cermin, apakah kita pun tampil sempurna bagaikan Cinderella?

2. Penuh perhatian

Sosok yang dibayangkan adalah sosok yang paham akan kebutuhan dan keinginan kita. Kepahamannya akan membuat dia selalu mengerti bagaimana cara menyenangkan hati kita.

Kenyataannya sekalipun seorang suami itu pada hakikatnya ingin menjadi orang terbaik bagi istri (dan keluarganya), seringkali mereka tidak pandai mengungkapkannya. Kadang itu tergantung pada karakter suami atau latar belakang keluarganya.

Jika ia kebetulan terlahir sebagai manusia super cuek, kita tak perlu berlebihan dalam mengemis (meminta, mengharapkan) perhatiannya.

Yang penting dilakukan adalah: mengungkapkan padanya apa.maksud kita yang sebenarnya. Ini dilakukan untuk menghindari kesalah-pahaman.

3. Siap menolong

Suami kita pada hakikatnya adalah penolong. Tapi jarang di antara mereka yang berinisiatif menolong tanpa diminta.

Biasanya kita harus menyampaikan dulu apa saja yang kita butuhkan darinya.

4. Romantis

Kita membayangkan seorang suami yang “berbunga-bunga” di setiap tindakan dan perkataan?

Lupakanlah itu, karena itu bukan karakter bagi semua manusia.

Masing-masing orang punya cara masing-masing dalam mengungkapkan rasa sayang dan perhatian. Jangan memaksa mereka berubah. Mungkin mereka bisa berubah, tapi berilah waktu untuk berproses secara bertahap.

Maukah kita punya suami romantis tapi pemarah/sangat pencemburu? Ada lho orang seperti itu.

Masing-masing orang ada kelebihan/kekurangannya, termasuk kita.

Itulah unik.

5. Rapih dan fashionable

Tidak semua cowok yang penampilannya keren itu rapih. Banyak juga yang di luar tampak rapih ternyata barang-barang/kamarnya berantakan.

Jika kita termasuk orang yang teliti dan rapih. Siapkan mental untuk menghadapi situasi yang semrawut.

Saya pernah mendengar ada seorang istri yang pengen cerai karena suaminya suka naruh handuk sembarangan.

Ada juga yang terlibat pertengkaran, karena suaminya suka mencet odol dari sembarang bagian. Sementara istrinya sudah terbiasa mencet odol dari bagian bawah ke atas.

6. Sayang anak-anak

Salah satu imej yang tergambar dari seorang pangeran adalah kelembutan hatinya, dus perhatian penuhnya pada anak-anak.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Bahkan banyak juga lelaki yang egonya lebih kuat, bersifat kekanakan, ingin dilayani lebih dahulu, dan punya rasa cemburu pada anak-anaknya.

Pada kondisi yang seperti ini, justru lebih mudah untuk memberi pemahaman atau meminta pengertian pada anak-anak dibandingkan pada suami.

7. Gentelmen (mendahulukan wanita)

Penjelasannya hampir mirip penjelasan pada poin 6.

Kadang pada kenyataannya sebagian lelaki ingin lebih diutamakan. Jadi ada kondisi-kondisi tertentu di mana kita harus menurunkan hasrat ego. Jika tidak ada yang mau mengalah, tak pelak kita bisa terlibat situasi konflik.

Dari beberapa kondisi di atas, maka sangat luar-biasa jika kita mengingat kepribadian Rasulullah SAW sebagai seorang suami. Kesempurnaan akhlak beliau terhadap istri-istrinya menunjukkan pada kita bahwa beliau memang bukan manusia biasa.

Telah sampai pada kita gambaran tentang Rasulullah SAW. Tentang kelembutan dan kesabaran, cara meluruskan kesalahan istri, adab mempergauli istri, sampai kemandirian beliau dalam mengurus keperluan pribadinya sendiri.

Rasulullah SAW adalah gambaran seorang “pangeran” yang sesungguhnya.

Adapun pangeran versi dongeng Disney atau HC. Andersen, kita tidak tahu kelanjutan ceritanya. Kisah-kisah mereka hampir selalu berhenti di proses pernikahan. Tidak ada keterangan apakah kehidupan mereka setelah itu adalah pesta pernikahan yang sempurna, lalu setelah itu dikatakan bahwa kehidupan mereka “happily ever-after”.

Padahal part (bagian) terpenting adalah bagaimana mereka menjalani kehidupan perkawinan mereka setelah pesta pernikahan.

Pernikahan para pangeran dan putri dalam kisah nyata (kisah-kisah dari negara-negara monarki jaman dulu sampai kini) pun tak mencerminkan kondisi itu. Sebut yang paling populer, kisah Charles-Diana yang tak happy-end.

Dalam.kisah dongeng apalagi. Akankah pangeran dan Cinderella sukses mengatasi social-gap mereka? Akankah Belle bertahan dengan cara hidup suaminya yang bertahun hidup a la monster? Dsb. Tidak ada jaminan kebahagiaan itu.

Suami kita bukanlah seorang pangeran sejati dengan segala citra kesempurnaan. Mereka membutuhkan “sentuhan putri sejati” supaya mereka bisa menjadi pribadi yang kita idamkan.

Sudahkah kita memiliki citra para putri? Siapkah kita membaginya sentuhan putri

 

Mukena Al Gani

by Yulia